Sunday, April 8, 2012

Contoh Makalah PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA PEMBELAJAR


Abstract
Recently, there is a shift from teacher centered to learner centered in the teaching and learning process. This change is made to enhance students’ learning. Students will learn more and better, but this needs changes in all aspects of education. Students need to change from a learning process that largely is controlled by teachers to a more self responsible learning style. Teachers have to create a learner centered environment, to teach student how to learn, not just to know about the content of the course. Learning spaces are not just classrooms as we usually know. Learning can take place in virtual and physical spaces, and physical space can be anywhere.
Key words: teacher centered, learner centered teaching and learning process. Pendidikan di Indonesia
Pendidikan Indonesia banyak ketinggalan, bahkan dibandingkan dengan negara yang tadinya belajar pendidikan dari Indonesia. Hal ini sexing diajulcan sebagai fakta betapa pendidikan di Indonesia kalah dari negara lain yang bare membenshi sistem pendidilcannya jauh setelah Indonesia. Keadaan ini lebih jelas lagi terlihat dalam pemeringkatan perguruan tinggi sedunia. Perguruan tinggi Indonesia tidak pemah mendapat tempat terhonnat, malah tersusul oleh negara yang belum lama merdeka.
Kebanyakan guru akan senang dan bangga bila anak didiknya kemudian menjadi orang, mendapat kedudukan tinggi, menjadi profesor, dan lebih pintar dan dirinya. Tapi bukan ini masalahnya, dalam bidang pendidikan suatu bangsa tidak numglcin menghindar dari arus persaingan untuk menjadi bangsayang unggul melalui pendidikan. Saat ini bangsa Indonesia hanya menjadi pengguna telcnologi, dan terjebak pada ketergantungan terhadap impor teknologi dari negara lain yang lebih maju.
Usulan solusi dan berbagai aspek pendidikan dari berbagai pakar pendidikan sudah cukup lengkap bila ingin dikumpulkan. Sangat mudah sebenamya untuk melihat dan mengadakan studi banding ke negara-negara dengan sistem pendidikan yang sudah maju, seperti dulu negara lain belaj ar dari Indonesia. Namunkenyataannyatidak mudah untuk keluar dan keterpurukan ini. Pendidikan di Indonesia bahkan dicurigai berjalan mundur.
Melalui pejabat yang berwenang, pemerintah terus melakukan usaha perbaikan. Beberapa kebijakan pemerintah bahkan bersifat wajib untuk dilaksanakan oleh semua lembaga pendidikan di Indonesia, misalnya Ujian Nasional yang menuai banyak kritik dan penyelenggaraan yang selalubermasalah kecurangan dankecurigaan. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun pernah diwajibkan, namun sebelum berlangsung seumurjagung sudah digantikan dengan Kurikulum Tmglcat Satuan Pendidikan (KTSP).
Di tingkat perguruan tinggi, Fakultas Kedokteran sedang menj alankannya karena diwajibkan, namun sudah pula terdengar isu beberapa perguruan tinggi negeri mulai meninggalkannya. Tak terhindarkan bahwa tertangkap kesan keinginan untuk memperoleh hasil yang segera, serta tidak konsisten dalam menerapkan konsep pendidikan yang sebenamya mungkin balk.
Walaupun secara rata-rata Indonesia kalah dan negara lain, namun cukup banyak pribadi-pribadi Indonesia yang unggul. Cukup sering anak-anak bangsa Indonesia menang dalam Olimpiade Fisika misalnya. Setiap kali pemberitaan kemenangan ini kembali membangkitkan harapan. Manusia Indonesia sebenamya tidak kalah dan bangsa manapun, tapi bagaimana caranya?
Tulisan ini tidak bermaksud menambah kusutnya benang pendidikan di Indonesia. Penulis pun bukan seorang ahli pendidikan, sehingga tidak mampu melihat sistem pendidikan sebagai keseluruhan yang saling terkait. Sedikit pemilciran berilcut ini mudah-mudahan dapat terus menggulirkan usaha perbaikan pendidikan di Indonesia.
Kurikulum
Kurikulum sering dianggap paling penting dalam dunia pendidikan. Kurikulum adalah kumpulan materi pembelajaran yang akan dipelajari oleh mahasiswa selama periode waktu sesuai program studi. Kumpulanmateri ini dikelompokkan menjadi mata kuliah-mata kuliah yang disusun menjadi suatu struktur yang teratur sesuai dengan urutan proses pembelajaran.
Ada banyak cara menyampaikan materi kurikulum yang sudah disusun kepada mahasiswa. Semuanya mempunyai tujuan positif, agar proses pembelajaran berjalan dengan baik, dan mahasiswa dapat menguasai semua materi tersebut secara maksimal. Wajar bila cara-cara ini terns diperbaiki, namun sej auh ini terkesan penerapan cam-cam ini bersifat coba-coba. Berbagai contoh yang lebih nyata, dapat dilihat pendidikan di sekolah pernah dijalankan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), lalu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan sebelum ini dijalankan dengan mantap diganti lagi dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Tanpamengurangi peran penting kurikulum, berhasilnya proses pembelajaran tidak hanya tergantung pada bagusnya materi kurikulum dan rapinya metode dan susunan mata kuliah. Kurikulum tetap hanya alat saja. Proses penyelenggaraan dan bagaimana penyampaian serta interaksi antara dosen dengan mahasiswa memegang peran lebih penting. Faktor manusialah yang utama. Perubahan kurikulum seharusnya diikuti dengan perubahan sikap pada semua pihak yang terlibat.
Sebagai pihak yang belajar, mahasiswa seharusnya menjadi pihak yang lebih alctif dan ditempatkan sebagai pemeran utama dalam proses pembelajaran. Menurut pars ahli, dulu dosen berada pada posisi sentral. Kalau dosennya pintar danmenguasai materi kwikulum, serta mahir dalam mengajar, malca hal ini dianggap akan menjadi jaminan keberhasilan proses pembelajaran. Namun kondisi ini cenderung membuat mahasiswa menjadi pihak yang pasif. Hanya rajin mendengarkan, dan tentu saja hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Kini kebanyakan kita menganggap mahasiswa harus menjadi pihak yang aktif dalam semua proses pembelajaran. Bukan berarti dosen menjadi pasif, dosen
tetap aktifmenj alanlcan peran sebagai fasilitatot Mungkin dengan tinglcat kesibukan yang bahkan lebih banyak dibanding dulu bila tidak ingin ketinggalan dari mahasiswanya. Mahn siswa yang aktif akan mendapat banyak pengetahuan lain di luar kurikulum, terlebih dengan keterbukaan informasi berupa kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan oleh internet.
Pembelajaran Berpusat pada Pembelajar
Ukuran keberhasilan dari suatu proses pembelajaran adalah berhasilnya lulusan menjadi “orang”, berhasilnya mahasiswa lulus dari suatu program studi, bila perlu dengan nilai IPK yang tinggi, atau berhasilnya mahasiswa lulus dari suatu mata kuliah dengan nilai tinggi. Maka wajar bila mahasiswa ditempatkan pada posisi sebagai pemegang peran utama dalam proses pembelajaran. Dosen dan pengelola menjalankan peran sebagai pendukung. Perubahan fokus pendidikan yang dulu berpusat pada pengajar dan sekarang pada pembelajar menghendaki perubahan besar pada semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Peran utama selalu lebih aktif, lebihbanyak muncul dan lebihbanyak mendapat perhatian. Mahasiswa yang aktif akan belajar lebih banyak, lebih berinisiatif, sehingga lebih berpeluang menjadi manusia yang mandiri. Di samping ilmu pengetahuan yang akan lebih melekat karena dicari dan dialami sendiri perolehannya, mahasiswa dan lulusan akan lebih siap menghadapi berbagai persoalan karena sudah terbiasa menghadapinya secara mandiri.
Dosen hams rela menggeser diri menjadi pemeran pembantu, namun tetap menjadi pihak yang sangat menentukan. Dosen hams menjaminbahwa mahasiswa tetap pada posisinya sebagai pemegang peran utama. Dosen hams memotivasi mahasiswa agar mau dan dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran. Tidal( sekedar “nebeng lulus”. Dosen harus menjaga agar diskusi antar mahasiswa tetap menjadi diskusi ilmiah, dan tetap pada jalur materi yang ditetapkan dalam kurikulum. Dosen hams Pula dapat menjaga agar diskusi ini menjadi diskusi yang serius dan berbobot, bukan sekadar debat kusir. Dengan lain perkataan dosen hams siap mencairkan kelmntuan dalam suatu diskusi. Dosen harus mengusahakan agar mahasiswa dapat belajar sendiri.
Pergeseran peran mahasiswa dan dosen ini tidak terlalu mudah. Kita semua sudah sangat terbiasa dengan pola lama. Dibutuhkan kemauan dan kesediaan semua pihak untuk berubah. Dosen perlu mempunyai kepercayaan bahwa perubahan ini akan membawa kebaikan, dan percaya bahwa mahasiswa dapat melakukannya, dengan bantuan dosen tentu saja.
Pergeseran paradigma pendidikan ini menuntut perubahan sikap mahasiswa dari tergantung pada dosen menjadi independen dan mandiri dalam proses belajar. Dosen perlu memfasilitasi agar kemandirian ini dapat tercapai (Doyle, 2008). Leblh lanjut Doyle mengemulcakan pentingnya bagi mahasiswa untuk mengetahui mengapa sekarang mereka diminta belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Perlu juga dipertanyakan apakah mahasiswa tahu cara bekerja sama dalam kelompok kecil tersebut, dan apakah mahasiswa tahu cara berkomunikasi di antammereka tanpa keikutsertaan dosennya. Selain itu, apakah mahasiswa dapat menentukan sendiri peran masing-masing dalam kelompok tersebut. Intinya dosen sekarang bukan hanya mengajarkan mated pengetahuan ilmu tertentu, tapi lebih pada mengajarkan agar mahasiswa dapat belajar dengan baik. Dahulu mahasiswa belajar untuk tahu dan menguasai suatu mated kuliah tertentu, sekarang belajar untuk dapat belajar ilmu tersebut.
Bagi dosen, ini merupakan pentbahan berat. Dosen tidak cukup hanya ahli di bidang ilmu tertentu. Sekarang dosen harus menguasai ilmu pendidikan. Ini biasanya tidak diperoleh oleh dosen dalam masa pendidikannya di bidang ilmu tertentu. Sebenamyauntuk ini dibutuhkan pendidilcan tambahan bagi semua dosen. Dahulu mahasiswa yang mencari tahu dosennya seperti apa, bahkan sampai pada kesenangan dosennya supayamemperoleh nilai balk. Sekarang dosen yang harus lebih memahami mahasiswanya, mungkin bahkan sampai mencari tahu latar belakang masalah yang dihadapi mahasiswanya.
Dahulu dosen terfokus pada apa yang akan diajarkannya. Sekarang fokus bergeser pada mengetahui apa yang dipelajari mahasiswanya. Dulu tanggung jawab proses pembelajaran sepenuhnya di tangan dosen, sekarang mahasiswa yang lebih bertanggung jawab atas keberlangsungan proses pembelajarannya sendiri. Hal ini menuntut kesediaan dan kesiapan mahasiswa. Dahulu mahasiswa diberi pengetahuan oleh dosen, sekarang mahasiswa mencari tahu sendiri Dan
pengalaman selama ini, hal ini akanmenyulitkan karenamahasiswa sudah terbiasa menunggu. Dosen hams membantu mengatasi masalah ini. Dosen pun bukan tanpa kesulitan, mereka harus mengubah kebiasaan dan memberikan menjadi mendorong mahasiswa menemukan sendiri. Dosen harus lebih sabar. Mahasiswa mencari sendiri akan makan waktu lebih banyak dibanding langsung diberitahu oleh dosen.
Seragam dan Beragam
Dulu pembelajaran berpusat pada dosen. Dosen menentukan satu sistem pembelajaran untuk mahasiswa sekelas, beberapa puluh mahasiswa diperlakukan sama. Mahasiswa yang dapat belajar dengan cepat disamakan dengan mahasiswa yang lambat belajar. Kuliah dimulai di awal semester dan selesai di akhir semester dengan jadwal yang sama bagi semua mahasiswa. Jadwal pemasukan tugas dan jadwal ujian pun dibuat hanya satu bagi semua.
Mahasiswa dengan latar belakang kemampuan berbeda harus menyesuaikan din dengan pola belajar dan jadwal yang seragam. Penyelenggaraan clan administrasi pembelajaran memang menjadi teratur dan sederhana, sehingga sangat memudahkan bagi karyawan administrasi. Mahasiswa yang lcurangpandai disamakan dengan mahasiswa yang lebih pandai. Dalam satu kelas mungkin saja terdapat mahasiswa ber-IPK 4 sampai 0. Mereka mendapat menu pelaj aran, cara penyampaian, waktu pengerjaan, dan segalanya dalam satu paket yang sama. Secara mudah dapat ditangkap bahwa menu tersebut akan terlalu mudah bagi yang ber-IPK 4 atau terlalu sulit bagi yang 0.
Berubahnyaparadigma ke arah pembelajaran berpusat pada mahasiswa, maka keragaman mahasiswa menuntut adanyapola belajar yang berbeda-beds. Dosen tidak dapat lagi menyeragamkan perlakuan terhadap mahasiswa, tetapi hams menyiapkan paket-paket belajar yang berbeda-beda bagi tiap mahasiswa. Adanya kecepatan belaj ar yang berbeda-beda, mungkin perlu disiapkan pulaj adwal yang berbeda bagi tiap kelompok mahasiswa.
Banyak konsekuensi akibat perubahan pusat perhatian pembelajaran dari dosen ke mahasiswa. Dosen harus menerima kondisi keberagaman mahasiswa
dan hams mau menyesuaikan cara mengajamya serta hams mau juga menyiapkan Kahan dan metode pengajaran yang beragam sesuai karakter masing-masing mahasiswa. Tentu saja ini semuamenuntut usaha dan waktu lebih banyak dibanding dahulu. Konsekuensi selanjutnya adalah beban kerja dosenperlujuga disesuaikan. Dosen yang dahulu diberi beban 2 SKS (misalnya) untuk menangani suatu mata kuliah, sekarang membutuhkan waktu dan usaha lebih banyak, sehingga perlu Eteri beban lebih besar bila inginberjalan dengan baik. Dengan demikian mungldn diperlukan tenaga dosen lebih banyak. Apakah ini berarti pembelajaran berpusat pada pembelajar akan berdampak pada biaya yang lebih besar ? Mudah-mudahan aclak harus demikian. Efisiensi dan efelctifitas pendidikan hams terus diusahakan.
Keaktifan
Sekarang perubahan berjalan sangat cepat. Dahulu belajar lebih banyak memandallcan ingatan, sekarang hams dengan pemahaman (Oblinger, dick, 2005). Mahasiswa hams aktif mencari dan menyusun pengetahuan baru melengkapi peuetahuan yang sudah dimilikinya. Mahasiswa tidak lagi dianggap masuk kelas dengan kepala kosong, tapi sudah membawa pemahaman dasar yang siap untuk dnambabkan dengan pengetahuan barn.
Dalam belajar, pemahaman awal mahasiswa dijadikan dasar, dan mahasiswa didorong untuk bersikap aktifterlibat dalam menganalisis, berdebat, dan berpikir kritis, dalam menerima dan menguji informasi barn. Mahasiswa juga didorong untuk belajar dengan cara banyak berdiskusi, langsung dengan ahlinya, dan kerj a sama dalam tim. Proses belajar sebaiknya diperkuat dengan interaksi sosial, hubungan interpersonal, dan komunikasi dengan orang lain. Tapi tetap perlu ada tugas yang diketjakan individu.
Dahulu mahasiswa dinilai hanyaberdasarkan hasil ujian di akhir semester saj a, namun kini harus ditambah dengan penilaian proses yang dij alankan dalam menemukan, mengeksplorasi, bereksperimen, bersikap kritis, dan melakukan analisis. Semua ini dikatakan sebagai ciri belajar aktif, belajar dengan mengeijakan bukan hanya mendengarkan saj a.
Dalam proses diskusi, mahasiswa akan terdorong aktif mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya, mengkritik pendapat teman sekelompok, serta menganalisis. Kegiatan ini sebenamya sama seperti mengajar teman lainnya. Untuk itu mahasiswa hams membaca dan meneliti, menganalisis danmengevaluasi materi, ataumenguasai materinya agar dapat mengemukakan dalam kata-katanya sendiri dalam diskusi tersebut.
Proses Belajar yang Menyenangkan
Menurut para ahli pendidikan, proses pembelajaran akan lebih efektif bila dij alani oleh pembelajar dengan perasaan senang. Perasaan tidak senang dan tertekan akan membuat mahasiswa tidak dapat mengeluarkan semua kemampuan dan keinginannya untuk belajar karena ada penolakan dari dalam dirinya. Maka muncul konsep edutainment. Konsep ini sejalan dengan pembelajaran berpusat pada pembelajar. Sekarang mahasiswa banyak menentukan sendiri seperti apa proses yang diinginkan, tidak lagi di bawah “tekanan” dosen.
Perasaan senang akan lebih mudah menimbulkan motivasi dari dalam diri mahasiswa sendiri, tanpa perlu dipaksa. Perasaan senang juga akan membuat mahasiswa lebih menyukai semua kegiatan pembelaj aran. Mahasiswa bahkan menikmatinya. Suasana belajar tidak lagi menjadi penyebab stress atau sakit.
Proses dan suasana belajar yang menyenangkan akan membentuk citra positif dan suatukampus. Ini merupakan promosi yang baik di tengah situasi kekurangan mahasiswa di banyak jurusan. Hal ini berbeda dengan persepsi yang banyak dianut bahwa tekanan dalam proses pendidikan akan membentuk pribadi mahasiswa yang tangguh.
Mahasiswa sebagai Pribadi
Mahasiswa adalah individu-individu yang berbeda satu dengan lainnya. Mereka memiliki kemampuan, keunikan, juga kelemahan masing-masing. Agar semua dapat berhasil, perlu diberi perhatian kepada masing-masing mahasiswa. Keseragaman dan kesamarataan akan menghilangkan karakter ini. Menurut para ahli di bidang psikologi, tiap orang membutuhkan perhatian dan penghargaan agar dapat menjadi pribadi yang berkembang utuh.
Penyeragaman cara-cara penyelenggaraan pendidikan kurang memberi perhatian kepada pribadi-pribadi mahasiswa. Mahasiswa dipandang sebagai kelompok yang harus diperlakukan sama, supaya adil. Mahasiswa dipandang sebagai angkatan tahun ke sekian, atau mahasiswa kelas mata kuliah tertentu. Kelas besar, terutama, akan menyulitkan dosen untuk dapat memberi perhatian kepada pribadi-pribadi mahasiswa dengan lebih intensif, apalagi mengenali dan memahami karakter-karakter mahasiswa satu kelas. Dosen akan cenderung melihat mahasiswa sebagai kelas atau kelompok, bukan pribadi-pribadi yang punya keunikan masing-masing. Perasaan clan pengetahuan bahwa dirinyadihatgai aka- n menjadi dorongan sangat kuat bagi mahasiswa untuk menjadi bersemangat dalam segala hal.
Tiap mahasiswa memiliki gaya belajar yang unik, ada mahasiswa yang baru dapat belajar efektif di tempat yang sunyi, sementara mahasiswa lain santai raja belajar di tengah keramaian. Ada mahasiswa yang memilih belajar dengan iringan musik tenang atau dalam keheningan. Di sisi lain banyak juga mahasiswa belajar di tengah musik hingar bingar. Ada mahasiswa yang mengalami puncak belajar di pagi hari ketika baru bangun tidur dengan udara yang masih segar, sementara yang lain dapat belajar kapan saj a dengan sama efektif.
Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal, mahasiswa harus dibiarkan belajar dengan keunikan gaya belajar masing-masing. Kelompok belajar atau diskusi atau kelompok tugas sebaiknya diatur berdasar kesamaan gaya belajar.
Disiplin
Untuk dapat belajar secara mandiri dalam pembelajaran yang berpusat pada pembelajar, sangat dibutuhkan disiplin yaitu disiplin yang berasal dari dalam diri mahasiswa sendiri. Dosen harus membantumembentuk disiplin diri ini. Dulu disiplin identik dengan tata tertib yang tegas, sanksi yang berat bagi pelanggar aturan, dosen yang galak tanpa toleransi, suasana belajar yang formal, dan cara-cara lain yang terkesan keras dan tegas, serta tidak menyenangkan dan sering menimbulkan rasa takut. Hal ini menunjukkan untuk menj aga “wibawa”, agar terlihat disiplin, sehingga dosen agak menjagajarak terhadap mahasiswa.
Sampai sekarang pandanganini belumhilang, namunmuncul pandangan bahwa disiplin dapat juga dibentuk dengan cara-cara lebih halus tanpa menyakitkan hati dan perasaan. Cara ini tentu akan lebih menyenangkan bagi semua pihak. Saat ini disiplin mahasiswa cukup banyak dikeluhkan oleh para dosen. Datang kuliah terlambat, begitu pula pemasukan tugas, kuliah dosen tidak diperhatikan, mahasiswa sibuk ngobrol sendiri. Keluar masuk kelas selagi kuliah berlangsung, dan banyak bentuk ketidakdisiplinan lainnya.
Grote (2006) menemukan ketidakdisiplinan dalam perusahaan Frito Lay, tempatnya bekerja, ternyata disebabkan oleh sistem disiplin yang diterapkan sendiri. Pola tradisional dalam menegakkan disiplin, misalnya dengan memberi peringatan, teguran dan skorsing tanpa gaji, justru menghasilkan keributan, kemarahan dan dendam, serta sabotase. Grote kemudian menerapkan sistem yang terfokus pada menuntut orang memikul tanggung jawab personal untuk pilihan kelakuan dan tindak tanduknya sendiri. Sistem ini lebih mencerminkan kepercayaan bahwa tiap orang sudah dewasa, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya, yang akan merespons seperti lcita memperlakukan mereka. Skorsing tanpa gaji diganti dengan skorsing tapi digaji. Tapi bila tidak disiplin lagi, dikeluarkan. Karyawan yang menentukan nasibnya sendiri. Ternyata cars ini berhasil mengurangi secara drastis masalah disiplin di perusahaan itu. Konon
ribuan organisasi kini sudahmengikuti langkah ini. Apakah cam ini dapat diterapkan di dunia pendidikan?
Cam lama yang cenderung keras, memperburuk hubungan, dan konfrontatif, temyata gagal memenuhi tanggung jawab dan pembentukan individu yang disiplin dan produktif. Dasar pemikiran bahwa pelanggaran hams dihukum, lama-lama temyata tidak efektif. Orang sudah dianggap sebagai ‘criminal lebih dulu. Tidak dilihat harga diri dan tanpa rasa hormat. Tidak semua orang samakedisiplinannya, dan tidak sama kemampuannya.
Minat Mahasiswa
Minat mahasiswa sangat beragam. Sebagai contoh misalnya yang berjalan di Jurusan Arsitelctur, ada mahasiswa yang lebih berminat dan lebih berprestasi baik di bidang perancangan arsitektur, yang lain minatnya di bidang perkotaan, lainnya lagi di teknologi arsitektur, dan lainnya. Dunia cukup lugs dan dapat menampung berbagai minat. Hal ini dapat dilihat juga dari beragamnya bidang yang ditekuni para lulusan.
Bila terfokus pada pembelajaran dengan pembelajar sebagai subyek, maka masing-masing minat mahasiswaperlu dipenuhi. Hal ini agak berlawanan dengan pola yang dijalankan sekarang dengan satu kurikulum yang berciri spesifik, dan berlaku untuk semua mahasiswa. Sekarang mahasiswa hanya bebas mengembangkan minatnya di mata kuliah pilihan.
Kembali contoh di bidang arsitektur, minat dan profesi di bidang arsitektur tidak hanya sebagai perancang. Ada juga arsitek yang berprofesi di bidang pendidikan, atau mengembangkan ilmu dan teori arsitektur, atau manajemen proyek, atau mendalami pengembangan material bangunan, atau penelitian¬penelitian arsitektur terkait dengan dampak lingkungan, atau penelitian arsitektur lainnya, atau fotografi arsitektur, atau lainnya.
Apakah memenuhi minat mahasiswa dalam pembelajaran berpusat pada pembelajar juga termasuk menyediakan kurikulum yang beragam, tidak hanya ditampung di mata kuliah pilihan saj a?
Mahasiswa Internet
Dosen harus memahami kondisi dunia mahasiswa dan perkembangan teknologi informasi yang sangat mempengaruhi kebiasaan dan karakteristik mahasiswa sekarang. Mahasiswa sekarang dilingkupi oleh jaringan informasi yang siap pakai 24 x 7 jam seminggu, dapat diakses lcapan saja dan di mana saja. Tentu saj a hal ini banyak mengubah kehidupan dan gaya belajar mahasiswa (Oblinger, dick, 2005). Teknologi video conference memungkinkan mahasiswa dapat langsung berinteraksi dengan teman, dan pakar, di tempat lain yang jauh sekalipun. Lingkup belajar menjadi lebih luas, sangat cepat, dan tidak mengenal jadwal.
Proses pembelajaran yang selalu terkait dengan pengetahuan yang terus berkembang, terkait erat dengan dunia teknologi informasi ini. Perkembangan ilmu terakhir dengan cepat dapat diperoleh melalui internet. Keadaan ini membuat para dosen tidak dapat menghindar dari ilcut memahami dan menguasai teknologi informasi yang terus berkembang dengan cepat ini.
Perubahan Tempat Belajar
Perubahan pendidikan berpusat pada mahasiswa harus diikuti oleh perubahan tempat belajar. Contohnya di fakultas kedokteran. Mahasiswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan pola diskusi. Ruangan kelas dibagi menjadi kecil-kecil. Apakah ke depan tempat belajar masih harus berupa ruang kelas? Dalam bentuk ruangan fisik? Tempat belajar mungkin tidak lagi harus berupa ruang fisik, dapat jugs merupakan ruang maya. Teknologi informasi yang ada dan akan terus berkembang memungkinkannya. Ruang fisik juga tidak harus berupa ruangan kelas, tapi dapat di mana saj a.
Di dalam ruang kelas perlu dimungkinkan adanya perlengkapan elektronik dan interne sehingga belajar dapat berlangsung lebih efektif. Komputer yang lebih fleksibel dan ringan, mudah dibawa ke mana-mana, laptop, notebook, netbook, serta hot spot, membuat belajar tidak lagi harus di dalam ruangan formal berupa kelas, atau perpustakaan, atau laboratorium. Taman, atau pojok¬pojok kosong yang talc terpakai, atau di waning atau kafe, sebenarnya dapat menjadi ruang belajar informal bagi kelompok diskusi kecil.
Ruang-ruang dalam dan luar kelas, serta ruang-ruang luar, perlu ditata kembali agar semua bagian dapat digunakan untuk belajar bagi kelompok-kelompok kecil. Pojok-pojok dengan mej a dan kursi untuk 4 atau 5 orang berdiskusi, atau ruang belajar bersama. Selain ruang kelas yang formal, mahasiswa dan dosen dapat menjalani proses pembelajaran di ruang-ruang informal, bahkan virtual. Keadaan kekurangan ruangan kelas dapat teratasi.
Ruang perlu diatur agar mahasiswa dapat mempresentasikan karyanya di depan kelompok, di luar kelas mahasiswa harus dapat mengakses data, teks, atau media yang digunakan untuk menganalisis. Di tempat-tempat belajar perlu dimungkinkan sebanyak mungkin material untuk dipajang, juga tersedia alat interalctifuntuk memungkinkan eksplorasi dan pengujian. Sebaiknya tersedia alat untuk merekam semua kegiatan agar dapat dipakai sebagai bahan evaluasi kemudian. Diskusi tidak hanya berlangsung pada jadwal di dalam kelas. Setelah kelas selesai diskusi dapat berlanjut, di dalam kelas yang sama, atau di tempat lain, seperti koridor, tempat-tempat duduk di taman, atau ruang-ruang pojok yang dibuat nyaman. Untuk itu perlu dimungkinkan mengakses materi pelajaran secara digital.
Perubahan Mahasiswa
Dalam pembelajaran berpusat pada pembelajar, mahasiswa perlu mengenal peran dan tanggung jawabnya. Peran aktif dalam proses belajar dapat diartikan sebagai mahasiswa dituntut untuk mengajar dirinya sendiri, atau bekerj a sama dengan teman-temannya dalam satu kelompoic Mahasiswa hams ikut ambil bagian dalam proses penemuan sesuatu. Dalam kelompok setiap mahasiswaharus ikut berperan dalam mengajar anggota kelompok yang lain.
Mahasiswa juga hams aktif mengevaluasi pembelajaran dirinya sendiri dan temannya. Mempresentasikan hasil belajar merupakan juga bagian dari keaktifan mahasiswa. Mahasiswa perlu mempelajari keterarnpilan bagaimana cara belajar serta strateginya.
Mahasiswa juga bertanggung jawab dalam menentukan pilihan dalam proses belajarnya sendiri, melakukan kontrol atas pembelajaran dirinya sendiri, memberikan masukan pada proses evaluasi cara pembelajaran yang dilakukan,
memberikan masukan bagi aturan dan pedoman pembelajaran, memberikan umpan balik kepada dosen mengenai proses pembelajaran, serta mengevaluasi sendiri hasil belaj arnya. Mengajar menunjukkan tingkat tertinggi dalam pemahaman, untuk itu perlu keterampilan dan kepercayaan diri. Sebelum dapat mengajar, mahasiswa harus belajar dengan mendalami materinya, juga dia hams belajar sendiri dengan keinginan dan keyakinan untuk menerima tanggung jawab. Mahasiswa sering melihat dosen memberi kuliah, tapi memberi kuliah adalah hal yang jauh beda. Mengajar orang lain juga menjadi pengalaman belajar yang hares dilalui mahasiswa. Mereka akan lebih menghargai dosennya karena menghayati juga proses yang dilalui dosen. Mereka juga hares berlatih bicara di depan umum.
Dengan terbiasa belajar secara mandiri dan aktif, mahasiswa akan lebih siap menghadapi perubahan-perubahan di dunia kerj a, serta tuntutan tambahan pengetahuan, dengan belajar terus, seumur hidup. Mereka bahkan akan selalu belajar sehingga lebih siap kapan saj a kesempatan terbuka. Belajar terus perlu disertai kesadaran akan kelebihan diri sendiri agar dapat maksimal. Konsep multiple intelligence dapat mengarahkan pilihan keunggulan setiap pribadi mahasiswa.
Menurut Doyle (2008), di tempatnya mengajar perubahan menj adi belajar berpusat pada pembelajar mendapat banyak tentangan justru dan mahasiswa. Mungkin mahasiswa merasa dirugikan dan direpotkan, sudah membayar mahal mengapa harus menjadi repot. Selain itu perlu juga diketahui lebih dahulu alasan penolakan terhadap peran dan tanggung jawab baru mahasiswa, Langkah kedua adalah berbagi dengan mahasiswa mengenai alasan yang jelas, bilaperlu didukung penelitian, mengapa mereka perlu memainkan peran dan tanggung jawab barn. Langkah ketiga adalah mengajarkan bagaimana belajar keterampilan barn ini.
Menurut Doyle, mahasiswa menolak mungkin karena sudah nyaman dengan sistem yang sudahberlangsung lama. Kebiasaan lama sulit cliubah, misalnya semasa sekolah menengah umum masih berpusat pada guru, atau temyata belajar bukan prioritas utamamahasiswauntukkuliah, atm imahasiswatidak senang menanggimg risiko. Dapat pula mahasiswa merasa cara ini tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya waktu masuk kuliah, atau mahasiswa tidak mau berusaha lebih keras dengan cara baru ini. Mahasiswa mempunyai pemikiran mengenai belajar
yang dimiliki menyulitkan mahasiswa untuk beradaptasi dan kebanyakan mahasiswa ingin ikut cara yang mudah saj a. Menurut Doyle juga, mahasiswa sudah terlanjur memiliki persepsi mengenai sekolah dan peran guru seperti yang pernah dialaminya, sudah tercetak kuat dalam benaknya sebagai cam lama. Oleh karena itu, perubahan ke cara barn perlu waktu.
Kebanyakan mahasiswa kelihatannya belum siap untuk belajar sendiri. Tugas dosenlah untuk mengajarkan merekaketerampilan ini. Diharapkan denganmampu belajar sendiri, mahasiswa akan lebih percaya diri dan keyakinan ini sangat diperlukan. Bila berhasil atas usaha sendiri, mahasiswa akan jauh lebih pugs. Bila gagal, kegagalan yang dialami sendiri karena usaha sendiri, akan lebih membekas menj adi pengalaman dan pelajaranpenting bagi proses pernbelajaranberikutnya. Hal penting ciiajarkan kepada mahasiswa agar berani menerima dan menanggung risiko kegagalan, jangan kapok!
Belaj ar dalam kelompok dapat saling mendorong menyemangati, serta mengembangkan emosi yang positif, membuat pelajaranjadi menarik. Menyadari banyaknya pandangan lain yang berbeda, dan cara berpikir yang berbeda semua ini akan menguatkan suatu ide atau kepercayaan.
Mengapa harus Berubah
Kepada mahasiswa, mungkin kepada dosen juga, perlu dij elaskan mengapa cara bare ini yang terbaik. Perlu digambarkan bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang akan dipelajari terkait dengan tujuan belajar, dan bagaimana metode yang dipakai memungkinkan mahasiswa mengembangkan keterampilan belajar dan berpikir yang akan terpakai seumur hidup.
Selain itu juga perlu dij elaskan bahwa cam bare ini sesuai dengan cara kerj a otak, yaitu otak akan berkembang bila terus aktif digunakan dan masukan pengetahuan akan terus berkesinambungan. Cara diskusi dalam kelompok kecil, belajar bicara, dan mendengarkan orang lain, mempresentasikan karyanya dalam kelompok, belaj ar menyampaikan dan mempertahankan, mungkin merupakan keterampilan paling penting untuk berhasil dalam karir.
Di tempat kerja, penting untuk dapat mengungkapkan ide dengan jelas dan tepat, mendengarkan kebutuhan orang lain. Dalam dunia kerja, ide, gagasan,
usulan, dan pertanyaan tidak akan didengar bila hanya menunggu diminta, oleh karena itu hams aktifbahkanproaktif. Harus jugamenarik perhatian atasan dengan lontaran ide yang cepat, j alas dan efektif, waktu dan momen adalah unsur penting. Tidak mendengarkan dengan hati-hati apayang diinginkanpelanggan, klien, pasien, teman kerj a, atau atasan, dapat menimbulkan citra buruk.
Keseimbangan dalam Kelompok
Untuk dapat berdiskusi dengan lancar dan efektifbagi semua mahasiswa peserta, keseimbangan dalam tingkat pengetahuan dan kemampuanmungkin diperlukan. Kesenjangan yang besar dalam kedua hal ini sangat mungkin akan menghambat kelancaran diskusi dalam kelompok. Hal ini akan mengarahkan kepada pembentukan kelompok-kelompok diskusi berdasarkan tingkat kemampuan. Dapat juga pembentukan kelompok ini didasarlcan pada kesamaan minat. Namun pembentukan kelompok tanpa batasan sama sekali pun mungkin mempunyai nilai positiftertentu. Hal ini membutuhkan evaluasi lebihmendalam.
Tugas Dosen makin Berat
Pergeseran pandangan yang menempatkan pembelajar sebagai pusat dalam proses pembelajaran mengharuskan dosen berubah, suatuperubahan yang besar. Dosen diharapkan tidak lagi bersikap galak tanpa alasan. Dalam setiap acara pembelajaran dosen bahkan diharapkan dapat membentuk iklim belajar yang menyenangkan. Sisipan humor yang dapat mencairkan kekakuan kelas dan menghilmgkan kantak sangat dianjurkan. Ukurannya arialahmahasiswa menikrnati mengikuti kelas dosen tersebut.
Dosen diharapkan menjadi orang yang penuh perhatian terhadap setiap mahasiswanya. Dosen harus mengubah pandangannya terhadap mahasiswa. Dengan sedildt bekal pengetahuanpsikologi dosen dapat lebih menghargai pribadi mahasiswa sebagai individu yang sudah dewasa.
Dosen harus dapat mengenali gaya belajar masing-masing mahasiswa dan melakukan pengaturan seperti kelompok dan materi ajar maupun metode penyampaian yang sesuai dengan tiap mahasiswa. Dosen harus bersedia
menyesuaikan gaya mengajarnya agar sesuai dengan gaya belajar masing-masing mahasiswa. Dosen harus membantu mahasiswa agar mengetahui apa yang mereka sudah tahu, tidak tahu, dan salah mengerti.
Dosen perlu mengkaji ulang cara-cara mendisiplinkan mahasiswa yang dijalankan selama ini. Perlu dikompromikan agar tidak terlalu keras maupunterlalu lunak sehingga memanjakan mahasiswa. Banyak lagi perubahan yang diharapkan terjadi pada din dosen.
Kesimpulan
Dalam dunia pendidikan saat ini beredar pandangan bahwa metode pendidikan yang berfokus pada pembelajar dapat menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik, dibanding metode lama yang cenderung berfokus pada pengajar. Pergeseran ini menghendaki perubahan sistem pendidikan agar dapat berhasil baik. Semua pihak juga hams mau menjalani perubahan ini.
Mahasiswa sekarang menjadi pemeran utama, mereka harus lebih aktif dibanding dulu, sedangkan dosen berubah menj adi fasilitator. Perlakuan yang menyeragamkan mahasiswa perlu dibuat lebih luwes, karenatiap mahasiswa pada dasarnya memiliki karakter dan kebiasaan belajar, serta minat yang berbeda¬beda. Dosen perlu mengenali karakter tiap mahasiswa agar dapat memberikan perlakuan yang tepat, sehingga mahasiswa dapat belajar dengan lebih efektif.
Mahasiswa perlu lebih bersikap mandiri karena dosen hanya mendampingi dan mendorong agar mahasiswa dapat belajar dengan efektif. Disiplin yang dibutuhkan agar proses belajar dapat berjalan dengan lancar hams muncul dari dalam diti mahasiswa sendiri. Dosen bertugas memotivasi mahasiswa.
Dengan diberi kebebasan dalam proses belajar, mahasiswa yang aktif akan dapat sangat cepat memperoleh berbagai data dari berbagai sumber melalui internet. Dosen tidak boleh kalah gesit bila tidk ingin kerepotan dalam proses pembimbingan karena mahasiswa lebih tahu dan dosen.
Kegiatan belajar akan lebih efektif dalam bentuk kelompok-kelompok kecil berdiskusi, untuk ini ruang yang dibutuhkan akan beruparuang-ruang kecil dalam jumlah banyak.
Agar dapat berhasil baik, semua pihak perlu menyadari dan menerima nisi baik dari perubahan metode belajar ini, dan semua pihak bersedia mengubah cara belajar dan mengajar masing-masing.
Daftar Pustaka
Baillie, Caroline, & Ivan Moore, (2004), Effective learning and teaching in engineering, London, Routledge Falmer.
Beard, Colin, & John P. Wilson, (2006), Experiential learning. 2nd ed. London, Kogan Page.
Doyle, Terry, (2008), Helping students learn in a learner centered environment, Virginia, Stylus.
Grote, Dick, (2006), Discipline without punishment, 2nd edition, New York, Amacom.
Mendler, Allen N., (2001), Connecting with students, Alexandria, USA, ASCD. Oblinger, Diana G, ed., (2006), Learning spaces, Educause.
Oblinger, Diana G, James L. Oblinger, eds., (2005), Educating the net generation, Educause.
Watkins, Chris, Eileen Carnell, Caroline Lodge, (2007), Effective learning in classrooms, London, Paul Chapman Publishing.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment